Jumat, 18 November 2016

RESUME ASPEK PERKEMBANGAN ANAK



ASPEK PERKEMBANGAN KREATIVITAS ANAK DI SEKOLAH DASAR

A.      Pengertian Kreativitas
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan sudut pandang masing-masing. Utami Munandar (1992: 47) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan. Barron (1982: 253) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Jadi, yang dimaksud dengan kreativitas adalah cirri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi sesuatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berpikir divergen.

B.       Tahap-Tahap Kreativitas
Wallas (Solso, 1991) mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
1.    Persiapan (Preparation)
     Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu. Namun pada tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah.
2.    Inkubasi (Incubation)
     Pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya,dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan” menghadapinya” dalam alam prasadar.
3.    Iluminasi (Illumination)
     Pada tahap ini individu sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psikologis ysng mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
4.    Verifikasi (Verivication)
     Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergen harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Filsafat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas.
C.      Karakteristik Kreativitas
Menurut Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreativitas, antara lain sebagai berikut:
1.    Senang mencari pengalaman baru.
2.    Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit.
3.    Memiliki inisiatif.
4.    Memiliki ketekunan yang tinggi.
5.     Cenderung kritis terhadap orang lain.
6.     Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya.
7.     Selalu ingin tahu.
8.    Peka atau perasa.
9.    Enerjik dan ulet.
10.    Menyukai tugas-tugas yang majemuk.
11.    Percaya kepada diri sendiri.
12.    Mempunyai rasa humor.
13.    Memiliki rasa keindahan.
14.    Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.

D.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
Kreativitas tidak dapat berkembang secara otomatis, tetapi membutuhkan rangsangan dari lingkungan. Beberapa ahli mengemukakan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kreativitas. Utami Munandar (1988) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas adalah:
1. Usia;
2. Tingkat pendidikan orang tua;
3. Tersedianya fasilitas dan
4. Penggunaan waktu luang.
Clark (1983) mengategorikan faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas dalam dua kelompok, yaitu faktor yang mendukung dan faktor yang menghambat. Faktor-faktor yang dapat mendukung perkembangan kreativitas adalah sebagai berikut:
a.       Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan serta keterbukaan.
b.       Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya pertanyaan.
c.       Situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu.
d.      situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian.
e.       situasi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa, mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji hasil perkiraan, dan mengomunikasikan.
f.       Kedwibahasaan yang memungkinkan untuk pengembangan potensi kreativitas secara lebih luas karena akan memberikan pandangan dunia secara lebih bervariasi, lebih fleksibel dalam menghadapi masalah, dan mampu mengekspresikan dirinya dengan cara yang berbeda dari umumnya yang dapat muncul dari pengalaman yang dimilikinya.
g.      Posisi kelahiran.
h.      Perhatian dari orangtua terhadap minat anaknya, stimulasi dari lingkungan sekolahnya, dan motivasi diri.
Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembangnya kreatifitas adalah sebagai berikut:
a.       Adanya kebutuhan akan keberhasilan,ketidakberanian dalam menanggung risiko, atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui.
b.      Konformitas terhadap teman-teman kelompoknya dan tekanan sosial.
c.       Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
d.      Stereotip peranseks atau jenis kelamin.
e.       Diferensiasi antara bekerja dan bermain.
f.       Otoritarianisme.
g.      Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan.

E.       Perkembangan Kreativitas dan Implikasinya Bagi Pendidikan Sekolah Dasar
Sesungguhnya anak-anak kreatif kedudukannya sama saja dengan anak-anak biasa lainnya. Namun, karena potensi kreatifnya itu, mereka sangat memerlukan perhatian khusus di sini bukan berarti mereka harus mendapatkan perlakuan istimewa, melainkan harus mendapatkan bimbingan sesuai dengan potensi kreatifnya agar tidak sia-sia. Kelemahan pendidikan selama ini dalam konteksnya dengan pengembangan potensi kreatif anak, menurut Gowan (1981),adalah kurangnya perhatian terhadap pengembangan fungsi belahan otak kanan.
Oleh karena itu, sistem pendidikan hendaknya memperhatikan kurikulum yang akan diolah menjadi materi yang dapat dikembalikan kepada fungsi-fungsi pengembangan dari kedua belahan otak manusia tersebut. Terlalu menekankan pada fungsi satu belahan otak saja menyebabkan fungsi belahan otak yang lain tidak berkembang secara maksimal.
Sifat relasi bantuan untuk membimbing anak-anak kreatif, menurut Dedi Supriadi (1994), sebenarnya sama saja dengan relasi untuk anak-anak pada umumnya. Hanya saja, idealnya para guru dan pembimbing mengetahui mekanisme proses kreatif dan manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi dengan anak-anak kreatif ini, Torrance (1977) menamakan relasi bantuan itu dengan istilah creative relationship yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.    Pembimbing berusaha memahami berusaha memahami pikiran dan perasaan anak.
2.    Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya tanpa mengalami hambatan.
3.    Pembimbing lebih menekankan pada proses daripada hasil sehingga Pembimbing di tuntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian dari keseluruhan dinamika perkembangan dirinya.
4.    Pembimbing berusaha menciptakan lingkungan yang bersahabat, bebas dari ancaman, dan suasana saling menghargai.
5.    Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai tertentu kepada anak.
6.    Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan anak.
7.    Pembimbing berusaha menempatkan aspek berpikir dan perasaan secara seimbang dalam proses bimbingan.
Sejumlah bantuan yang dapat digunakan oleh guru untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif, yaitu :
1.    Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya;
2.    Mengakui dan menghargai gagasan-gagasan anak;
3.    Menjadi pendorong bagi anak untuk mengomunikasikan dan mewujudkan gagasan-gagasan nya;
4.    Membantu anak memahami dalam berpikir dan bersikap, dan bukan malah
menghukumnya;
5.    Memberikan peluang untuk mengomunikasikan gagasan-gagasannya;
6.    Memberikan informasi mengenai peluang-peluang yang tersedia.