ASPEK
PERKEMBANGAN KREATIVITAS ANAK DI SEKOLAH DASAR
A.
Pengertian
Kreativitas
Kreativitas
didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan sudut pandang
masing-masing. Utami Munandar (1992: 47) mendefinisikan kreativitas sebagai
kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam
berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan. Barron (1982: 253)
mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu
yang baru.
Jadi, yang dimaksud
dengan kreativitas adalah cirri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang
menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau
kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi sesuatu karya
baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi
permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berpikir
divergen.
B.
Tahap-Tahap
Kreativitas
Wallas
(Solso, 1991) mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan,
inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
1.
Persiapan (Preparation)
Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu. Namun pada tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah.
Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah itu. Namun pada tahap ini belum ada arah yang tetap meskipun sudah mampu mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah.
2. Inkubasi
(Incubation)
Pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya,dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan” menghadapinya” dalam alam prasadar.
Pada tahap ini individu seolah-olah melepaskan diri untuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya,dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan” menghadapinya” dalam alam prasadar.
3. Iluminasi
(Illumination)
Pada tahap ini individu sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psikologis ysng mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
Pada tahap ini individu sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses-proses psikologis ysng mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
4. Verifikasi
(Verivication)
Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergen harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Filsafat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas.
Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergen harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik. Filsafat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas.
C. Karakteristik Kreativitas
Menurut Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreativitas, antara
lain sebagai berikut:
1. Senang
mencari pengalaman baru.
2.
Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas
yang sulit.
3.
Memiliki inisiatif.
4.
Memiliki ketekunan yang tinggi.
5.
Cenderung
kritis terhadap orang lain.
6.
Berani
menyatakan pendapat dan keyakinannya.
7.
Selalu ingin
tahu.
8.
Peka atau perasa.
9.
Enerjik dan ulet.
10.
Menyukai tugas-tugas yang majemuk.
11.
Percaya kepada diri sendiri.
12.
Mempunyai rasa humor.
13.
Memiliki rasa keindahan.
14.
Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
Kreativitas
tidak dapat berkembang secara otomatis, tetapi membutuhkan rangsangan dari
lingkungan. Beberapa ahli mengemukakan faktor-faktor yang memengaruhi
perkembangan kreativitas. Utami Munandar (1988) mengemukakan bahwa
faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas adalah:
1. Usia;
2. Tingkat pendidikan orang tua;
3. Tersedianya fasilitas dan
4. Penggunaan waktu luang.
1. Usia;
2. Tingkat pendidikan orang tua;
3. Tersedianya fasilitas dan
4. Penggunaan waktu luang.
Clark (1983)
mengategorikan faktor-faktor yang memengaruhi kreativitas dalam dua kelompok,
yaitu faktor yang mendukung dan faktor yang menghambat. Faktor-faktor yang
dapat mendukung perkembangan kreativitas adalah sebagai berikut:
a. Situasi
yang menghadirkan ketidaklengkapan serta keterbukaan.
b. Situasi yang memungkinkan dan mendorong
timbulnya pertanyaan.
c. Situasi
yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu.
d. situasi
yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian.
e. situasi
yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa,
mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji hasil
perkiraan, dan mengomunikasikan.
f. Kedwibahasaan
yang memungkinkan untuk pengembangan potensi kreativitas secara lebih luas
karena akan memberikan pandangan dunia secara lebih bervariasi, lebih fleksibel
dalam menghadapi masalah, dan mampu mengekspresikan dirinya dengan cara yang
berbeda dari umumnya yang dapat muncul dari pengalaman yang dimilikinya.
g. Posisi
kelahiran.
h.
Perhatian dari orangtua terhadap minat anaknya,
stimulasi dari lingkungan sekolahnya, dan motivasi diri.
Sedangkan
faktor-faktor yang menghambat berkembangnya kreatifitas adalah sebagai berikut:
a.
Adanya kebutuhan akan keberhasilan,ketidakberanian
dalam menanggung risiko, atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui.
b. Konformitas
terhadap teman-teman kelompoknya dan tekanan sosial.
c. Kurang
berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
d. Stereotip
peranseks atau jenis kelamin.
e. Diferensiasi
antara bekerja dan bermain.
f. Otoritarianisme.
g. Tidak
menghargai terhadap fantasi dan khayalan.
E. Perkembangan Kreativitas dan Implikasinya
Bagi Pendidikan Sekolah Dasar
Sesungguhnya anak-anak kreatif kedudukannya sama saja dengan
anak-anak biasa lainnya. Namun, karena potensi kreatifnya itu, mereka sangat
memerlukan perhatian khusus di sini bukan berarti mereka harus mendapatkan
perlakuan istimewa, melainkan harus mendapatkan bimbingan sesuai dengan potensi
kreatifnya agar tidak sia-sia. Kelemahan pendidikan selama ini dalam konteksnya
dengan pengembangan potensi kreatif anak, menurut Gowan (1981),adalah kurangnya
perhatian terhadap pengembangan fungsi belahan otak kanan.
Oleh karena itu, sistem pendidikan hendaknya memperhatikan
kurikulum yang akan diolah menjadi materi yang dapat dikembalikan kepada
fungsi-fungsi pengembangan dari kedua belahan otak manusia tersebut. Terlalu
menekankan pada fungsi satu belahan otak saja menyebabkan fungsi belahan otak
yang lain tidak berkembang secara maksimal.
Sifat relasi bantuan untuk membimbing anak-anak kreatif, menurut Dedi Supriadi (1994), sebenarnya sama saja dengan relasi untuk anak-anak pada umumnya. Hanya saja, idealnya para guru dan pembimbing mengetahui mekanisme proses kreatif dan manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi dengan anak-anak kreatif ini, Torrance (1977) menamakan relasi bantuan itu dengan istilah creative relationship yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
Sifat relasi bantuan untuk membimbing anak-anak kreatif, menurut Dedi Supriadi (1994), sebenarnya sama saja dengan relasi untuk anak-anak pada umumnya. Hanya saja, idealnya para guru dan pembimbing mengetahui mekanisme proses kreatif dan manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi dengan anak-anak kreatif ini, Torrance (1977) menamakan relasi bantuan itu dengan istilah creative relationship yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.
Pembimbing berusaha memahami berusaha memahami pikiran
dan perasaan anak.
2.
Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan
gagasan-gagasannya tanpa mengalami hambatan.
3.
Pembimbing lebih menekankan pada proses daripada hasil
sehingga Pembimbing di tuntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian
dari keseluruhan dinamika perkembangan dirinya.
4.
Pembimbing berusaha menciptakan lingkungan yang
bersahabat, bebas dari ancaman, dan suasana saling menghargai.
5.
Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau
nilai-nilai tertentu kepada anak.
6.
Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif
yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan anak.
7.
Pembimbing berusaha menempatkan aspek berpikir dan
perasaan secara seimbang dalam proses bimbingan.
Sejumlah bantuan yang dapat digunakan oleh guru untuk membimbing
perkembangan anak-anak kreatif, yaitu :
1.
Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan
kreativitasnya;
2. Mengakui dan
menghargai gagasan-gagasan anak;
3. Menjadi
pendorong bagi anak untuk mengomunikasikan dan mewujudkan gagasan-gagasan nya;
4. Membantu
anak memahami dalam berpikir dan bersikap, dan bukan malah
menghukumnya;
menghukumnya;
5. Memberikan
peluang untuk mengomunikasikan gagasan-gagasannya;
6. Memberikan
informasi mengenai peluang-peluang yang tersedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar